Minggu, 6 Maret 2026, menjadi salah satu perjalanan yang berarti dari puluhan pengalaman lain yang pernah aku lalui. Setiap perjalanan tentu memiliki ceritanya masing-masing, tetapi ada beberapa perjalanan yang tidak hanya meninggalkan kenangan, melainkan juga meninggalkan pelajaran yang sulit dilupakan. Salah satunya adalah ketika aku diberikan kesempatan untuk menjadi seorang relawan dalam penyaluran fidyah berupa nasi kotak yang dititipkan oleh para donatur kepada adik-adik dan teman-teman disabilitas di Panti sekaligus Sekolah Waraqil Jannah, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Bagi sebagian orang, menjadi relawan mungkin terlihat seperti sebuah kegiatan sederhana. Datang ke suatu tempat, membawa bantuan, kemudian menyerahkannya kepada mereka yang membutuhkan. Namun, bagiku, menjadi relawan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar memberikan sesuatu. Ada sebuah kepercayaan yang dititipkan oleh para donatur kepada kami untuk menyampaikan kebaikan mereka kepada orang lain. Pada saat itulah aku merasa bahwa menjadi relawan berarti menjadi perpanjangan tangan dari sebuah kebaikan, menjadi penghubung antara seseorang yang ingin berbagi dengan mereka yang menerima manfaat dari berbagi tersebut.
Tetapi perjalanan kali ini ternyata tidak hanya mengajarkanku tentang arti berbagi. Ada rasa kagum, bangga, sekaligus haru yang perlahan memenuhi hati ketika aku mengenal lebih dekat tempat yang kami kunjungi. Di balik berdirinya Panti sekaligus Sekolah Waraqil Jannah, terdapat kisah perjuangan seorang perempuan yang menurutku luar biasa. Namanya Yusni, atau mungkin lebih akrab disapa sebagai Ibu Yusni. Beliau adalah sosok yang mengawali tempat ini dengan sebuah niat yang tulus, yaitu keinginan untuk peduli dan memberikan ruang bagi teman-teman disabilitas agar dapat hidup, belajar, berkembang, dan memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Panti ini tidak dibangun melalui perjalanan yang mudah. Ada keterbatasan yang harus dihadapi, termasuk keterbatasan bantuan dan dukungan. Bahkan, di tengah prosesnya, ada berbagai perkataan yang meragukan apakah tempat ini mampu bertahan dan berdiri di tengah segala keterbatasan tersebut. Namun, Ibu Yusni memilih untuk terus berjalan. Apa yang awalnya mungkin hanya sebuah niat sederhana perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Dengan perjuangan dan ketekunan, tempat tersebut akhirnya berdiri kokoh dan menjadi rumah bagi teman-teman disabilitas yang membutuhkan ruang untuk bertumbuh.
Bagiku, kisah Ibu Yusni adalah pengingat bahwa sesuatu yang besar tidak selalu dimulai dengan sumber daya yang besar. Terkadang, sesuatu yang besar justru dimulai dari satu hati yang memilih untuk peduli. Dari satu orang yang berani percaya bahwa sesuatu yang dianggap tidak mungkin oleh banyak orang sebenarnya tetap layak untuk diperjuangkan. Dan hari ini, hasil dari perjuangan tersebut dapat kita lihat dari banyaknya anak dan teman-teman disabilitas yang mendapatkan ruang untuk belajar, berkarya, serta mengembangkan potensi mereka.
Hal lain yang membuatku semakin kagum adalah ketika melihat secara langsung berbagai kemampuan dan pencapaian yang dimiliki oleh teman-teman di sana. Di tengah berbagai keterbatasan yang mungkin mereka miliki, ternyata tersimpan begitu banyak potensi yang luar biasa. Ada yang mampu melukis dengan indah, ada yang memiliki kemampuan bernyanyi, dan ada pula yang berkali-kali mengukir prestasi hingga mampu mewakili Sumatera Barat. Mendengar dan melihat cerita-cerita tersebut membuatku kembali berpikir bahwa selama ini mungkin kita terlalu sering melihat seseorang dari keterbatasannya, tetapi lupa melihat kemampuan yang ada di baliknya.
Mereka bukan sekadar penerima bantuan. Mereka adalah anak-anak dan manusia yang memiliki mimpi, bakat, semangat, dan kesempatan untuk berprestasi. Mereka adalah orang-orang yang juga ingin didengar, dihargai, diberikan kesempatan, dan dipercaya bahwa mereka mampu. Justru dari sana aku belajar bahwa keterbatasan seseorang tidak pernah seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk membatasi harapan dan masa depannya.
Hari itu, aku merasa seperti sedang menemukan permata yang selama ini mungkin tidak banyak terlihat oleh dunia. Bukan karena mereka tidak bersinar, tetapi karena mungkin belum banyak orang yang benar-benar memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan cahayanya. Mereka memiliki kemampuan yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita. Dan ketika diberikan ruang, dukungan, serta kepercayaan, mereka mampu menunjukkan bahwa mereka juga dapat berdiri dengan prestasi yang membanggakan.
Perjalanan ini kemudian membuatku memahami bahwa kebaikan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar. Terkadang kebaikan hadir melalui nasi kotak yang sederhana, melalui tangan yang bersedia mengantarkan titipan, melalui waktu yang kita luangkan untuk berkunjung, atau bahkan melalui kalimat sederhana yang membuat seseorang merasa dihargai. Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat sederhana bagi kita, tetapi bisa memiliki arti yang besar bagi orang lain.
Aku juga semakin percaya bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang seberapa banyak yang dapat kita berikan kepada orang lain. Menjadi relawan juga tentang seberapa banyak kita bersedia belajar dari kehidupan orang lain. Karena terkadang, ketika kita datang dengan niat untuk membantu, justru kita yang pulang membawa begitu banyak pelajaran. Kita datang membawa sesuatu di tangan, tetapi pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga di dalam hati.
Dari perjalanan ini, aku berharap semakin banyak orang yang mau menjadi bagian dari kebaikan. Tidak harus menunggu menjadi orang yang memiliki banyak uang, banyak waktu, atau memiliki kemampuan luar biasa. Kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Menjadi seseorang yang mau peduli, mau membantu, mau mendengarkan, dan mau memberikan kesempatan kepada orang lain untuk tumbuh.
Aku juga berharap semakin banyak ruang yang tercipta bagi teman-teman disabilitas untuk berkarya dan berprestasi. Bukan hanya ruang untuk menerima bantuan, tetapi ruang untuk menunjukkan kemampuan. Karena mereka tidak hanya membutuhkan belas kasih, tetapi juga membutuhkan kesempatan, kepercayaan, dan dukungan agar potensi yang mereka miliki dapat berkembang.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti memandang disabilitas hanya dari sisi keterbatasannya. Sudah saatnya kita belajar melihat manusia secara lebih utuh. Melihat perjuangannya, melihat kemampuannya, melihat mimpinya, dan melihat potensi yang mungkin belum sempat mereka tunjukkan kepada dunia. Sebab setiap manusia memiliki cahaya dengan caranya masing-masing, dan terkadang yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang bersedia membantu menyalakan dan menjaganya agar tetap bersinar.
Terima kasih kepada para donatur yang telah menitipkan kebaikannya. Terima kasih kepada Ibu Yusni yang telah mengajarkan bahwa kepedulian yang dirawat dengan ketulusan dapat tumbuh menjadi sebuah rumah bagi banyak harapan. Dan terima kasih kepada adik-adik serta teman-teman di Waraqil Jannah yang tanpa mereka sadari telah memberikan pelajaran besar kepadaku tentang arti perjuangan, keberanian, dan rasa syukur.
Hari itu aku datang sebagai seorang relawan yang membawa titipan. Namun, aku pulang dengan membawa cerita dan pemahaman baru tentang kehidupan. Bahwa menjadi baik tidak harus menunggu memiliki banyak hal. Bahwa membantu tidak selalu harus dalam bentuk yang besar. Dan bahwa mungkin, kita memang tidak selalu mampu mengubah seluruh dunia, tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk membuat dunia seseorang menjadi sedikit lebih baik.
Semoga perjalanan ini tidak berhenti hanya sebagai sebuah kenangan yang pernah aku tuliskan. Semoga ia menjadi pengingat untuk terus menjadi bagian dari orang-orang yang memilih untuk peduli. Menjadi trendsetter kebaikan, bukan karena ingin dikenal sebagai orang baik, tetapi karena percaya bahwa kebaikan seharusnya menular dan terus berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
Sebab pada akhirnya, mungkin kebaikan bukan tentang seberapa besar sesuatu yang kita berikan, melainkan tentang seberapa tulus kita membuat orang lain merasa bahwa mereka tidak sendirian. Dan mungkin, di tengah dunia yang begitu sibuk mengejar banyak hal, menjadi seseorang yang masih mau peduli adalah salah satu bentuk keberanian yang paling sederhana, tetapi paling berarti.











